USD/IDR


Capacity pt. 2 | Cara Menghitung Kemampuan Bayar Tagihan Kredit Seorang Karyawan, Profesional & Pengusaha

Pada post sebelumnya, kita sudah berbicara mengenai "Capacity (Kemampuan Bayar)" secara garis besar. Nah sekarang, kita berlanjut untuk mengetahui kemampuan membayar dari seorang karyawan, profesional dan pengusaha. Lezgooo! (^0^)/

________________________________

Cara Menghitung Kemampuan Bayar Tagihan Kredit Seorang Pegawai

Untuk mengetahui kemampuan membayar dari seorang karyawan, bankers biasanya melakukaan perhitungan pendapatan bersih yang tercermin dari rekening, slip gaji dan verifikasi dari HRD perusahaan tempat si karyawan bekerja.

Tentunya komponen gaji karyawan yang dapat diterima hanyalah gaji dasar dan tunjangan rutin.

Insentif atau komisi dapat dipertimbangkan sebagai pendapatan si karyawan jika :
  1. Tercermin dalam rekening koran selama 3 bulan berturut - turut

  2. Nilai insentif atau komisi akan ditentukan berdasarkan nilai terendah (Jika nilainya berfluktuasi secara signifkan) sebagaimana yang tercermin di rekening

  3. Apabila pendapatan si karyawan ini berfluktuasi, maka bank akan mengambil nilai terendah. Hal ini disebabkan kebijaksanaan resiko konservatif dari si bank

  4. Jika si karyawan di berikan gajinya secara tunai. Maka pekerjaan yang di perkenankan hanyalah karyawan perusahaan BUMN, guru, dosen dan dokter. Untuk pekerjaan lainnya, biasanya bankers teman - teman perlu melakukan eskalasi ke Tim Analis Kredit dan PCAA (Personal Credit Approval Authority)

  5. Tentunya setelah dilakukan tindakan - tindakan diatas. Tentu ada yang namanya standar pendapatan. Standar pendapatan untuk apply fasilitas kredit sejenis KPR di Indonesia saat posting ini dibuat, ialah total pendapatan suami dan istri berada pada kisaran Rp. 60 - 70 juta pertahun.

    Artinya kalau di ukur - ukur, kita butuh total pendapatan suami dan istri Rp. 5 juta perbulan kalau mau beli rumah. Untuk info detail, coba cek posting untuk apply KPR sebagai berikut; Cara apply KPR / KPA. ;)

    Tapi tentunya sih, hal ini berbeda untuk fasilitas micro credit sejenis KTA / Personal Loan. Begitupun juga dengan kartu kredit. Cek posting tersebut untuk informasi lebih detail. ;)

    Untuk apply fasilitas Kredit modal kerja, eik belum bikin.. lagipula itu untuk wiraswasta kan.. heuheuheu.. segera menyusul yakkk.. ^^v
______________________________

Cara Menghitung Kemampuan Bayar Profesional & Pengusaha ;)

Perhitungan kemampuan bayar seorang profesional dan pengusaha itu sebenarnya agak 'ngehe' sih kalau gue bilang, ribet. Yang bikin ribet itu masalahnya faktornya banyak sekali. Tidak seperti karyawan yang perhitungan hanya dengan menggunakan gaji, tunjangan dan komisi yang terefleksi lewat rekening tabungan; Pada pengusaha, bankers harus memperhitungkan nilai penjualan, pajak, income statement,dsb..belum lagi supporting document yang segudang. walahhh! *mabok* X____x"

Perhitungan yang rumit inilah yang menyebabkan; "keputusan di terima atau tidaknya" aplikasi kredit lebih cepat diketahui jika si calon debitur ialah karyawan.

Nah, mari kita lihat sekilas apa saja yang dilihat si bankers saat melihat data seorang profesional dan pengusaha. :)

  1. Terlebih dahulu, bankers harus menggali informasi dari nasabah perihal berapa nilai penjualan dalam sebulan. Bisa dilihat dari rekening koran, atau si bankers tanya - tanya supplier dan buyers si customer. :)

    Kemudian nilai penjualan yang dinyatakan nasabah tersebut dibandingkan dengan nilai rata -rata mutasi kredit/nilai penjualan.

    Minimal nilai penjualan berdasarkan rekening adalah 70 % dari yang dinyatakan nasabah. Bingung?
    Contohnya itu begini :
    Jika nasabah menyatakan bahwa nilai penjualannya adalah Rp. 100 juta, maka minimal nilai penjualan berdasarkan rekening ialah Rp. 70 juta (70 % x Rp. 100 juta). Perhitungan 70 % ini dilakukan karena bank memperkirakan lah, dalam kondisi ekonomi lagi turun, kira - kira penjualan si nasabah berlari di kisaran angka tersebut masbro. x___x"

    Jika nilai penjualan berdasarkan rekening dibawah 70 % dari yang dinyatakan, maka nasabah diminta untuk melampirkan dokumen tambahan atau fotokopi rekening lainnya. Jika nasabah tidak dapat melampirkan dokumen yang diminta maka digunakan angka penjualan berdasarkan rekening.

    Jika nilai penjualan berdasarkan rekening koran >70 %, maka digunakan nilai penjualan berdasarkan pernyataan nasabah

  2. Untuk usaha dengan basis transasksi tunai, analisa berdasarkan kebijakan Tim Kredit Analisis dan PCAA (Personal Credit Approval Authority)

  3. Bukti Penjualan dan surat pembelian di perkenankan untuk di lampirkan sebagai bagian dari dokumen pendukung selama dokumen tersebut dapat di verifikasi. Akan tetapi, dokumen - dokumen tersebut tidak dapat di gunakan sebagai bahan pertimbangan tambahan.

  4. Setelah melakukan hal - hal diatas, bankers kemudian melakukan penyusunan Income Statement. *Nah, untuk yang ini ga usah gue post deh, bisa mati ntar yey yey pada liatnya. RIBET TAUK! T_____T" Biarkan bankers saja nanti yang bekerja! Hahahhaa...

  5. Setelah melakukan penyusunan Income Statement, tibalah waktunya si Bankers menghitung pajak si nasabah ini. *nanti gue akan bikin post mengenai perhitungan pajak penghasilan di Indonesia* *mabok ey! T____T

  6. Setelah menghitung penghasilan dikurang pajak. Bankers kemudian akan menghitung lagi, apakah si customer ini memiliki kewajiban kredit yang lain ga? Seperti KPR, KRK, KTA, Kartu Kredit, dsb.. dsb...

  7. Kelar semua itu, tibalah saatnya bagi si bankers untuk menghitung IIR (Installment to Income Ratio) a.k.a DBR (Debt Burden Ratio).

    IIR / DBR ini istilah simplenya ialah persentasi kemampuan bayar si customer. Sanggup ga dia bayar tagihan nantinya. *nanti gue akan bikin posting detail mengenai ini* *eik udah mabok ey.. hahahaha.. ='))


Nah... kurang lebih begitulah proses bagaimana si bankers menghitung kemampuan membayar teman - teman. Posting ini tidak bertujuan untuk membuat teman - teman tau lebih extensive mengenai proses hitung - hitungan si bankers. Tapi setidaknya teman - teman tau prosesnya. Lagian, kalau teman - teman sudah liat hitung - hitungannya, dijamin bete deh! Give the job to the bankers ajalah! Hahahha..

Ok teman - teman, semoga informasi ini berguna. ROCK ON! ;) \m/


_________________________

Bacaan Terkait :

  1. Character a.k.a Kemauan Membayar

  2. Capacity a.k.a Kemampuan Membayar

  3. Capital a.k.a Jumlah Modal

  4. Collateral a.k.a Jaminan

  5. Conditions a.k.a Kondisi Eksternal

2 comments:

  1. nanya dong, pendapatan gw dan suami per bulan +/- 17jutaan. Kami masih memiliki cicilan mobil sebesar 3,5 juta per bulan dan akan berakhir bulan agustus. Sementara, gw pengen ngajuin KPR dengan cicilan per bulan 6,3 juta. Karena DP diangsur selama 4 bulan, perkiraan cicilan bulanan akan dimulai sekitar bulan juli. Dengan keadaan spt diatas, bisa gak ya gw ngedapetin kpr-nya?

    ReplyDelete
  2. Hey mba anesh, sorry for a very late reply.. been a bit busy lately.. tepatnya sok sibuk banget sih gue. hahaha.. :))

    Gue yakin perihal KPR ini mungkin sudah kelar. Tapi gue akan coba jawab juga aja kali yak.. :))

    Pertama - tama ya kita hitung DBR mbak dulu. biasanya hitungannya 1/3 dari total pendapatan. yaitu sekitaran 30 - 33 % dari total pendapatan. katakanlah kita pakai 30 % yak mba.. jadi :

    17juta x 30 % = max 5.100.000

    disini mbak sudah memiliki cicilan mobil. yang mana itu totalnya 3,5jt. Jadi sisa maksimum berhutang ialah

    5,1 - 3,6juta = 1.5juta.


    kalau kita hitung secara logika.. walaupun mba nantinya di bulan agustus bakalan kelar cicilan mobilnya.. harusnya sih mba kaga bisa di approve nih KPR-nya. soalnya DBR-nya ga cukup.

    etapiii.. kredit itu kan fleksibel... lagian kalau RM mortgage mba mau fight sih bisa saja KPR ini di approve.. dan saya yakin sih.. kalau BI checking, latar belakang pekerjaan, history transaksi rekening, saldo tabungan mba, jenis - tempat property yang akan dibeli, adanya personal guarantee, dll mba oke.. harusnya sudah approve ini KPR-nya sekarang. :))

    Apalagi disini mba ada bilang DP-nya bisa diangsur 4 bulan. Saya berasumsi ini pasti mbak ditawarin sejenis produk tabungan DP KPR gitu sama bankernya.

    Jadi kalau sudah begini.. jawaban saya ya tergantung faktor" diatas yang tadi sudah saya sebutkan. Kalau oke, ya kenapa tidak di approve KPR-nya. :)

    ReplyDelete