USD/IDR


Penyebab Terjadinya Tunggakan yang Seringkali Berujung Pada Kredit Macet!


Pernah ga teman - teman ngeliat di TV ada berita rumah orang di sita karena kredit macet. Kasihan sih... Banget! Tapi kita juga ga bisa apa - apa, karena tindakan penyitaan aset itu biasanya sudah berdasarkan keputusan dari pengadilan. Kasarannya, suka ga suka, tindakan itu sudah dianggap syah secara hukum.

Kalau sudah begini, pasti ada saja pro dan kontra. Sebagian ada yang berpendapat; "Ah, hukum mah berpihaknya cuma sama yang punya uang!" atau "Ah, itu hakimnya di sogok doang tuh! Hakimnya ga berpihak sama rakyat kecil!" dsb dsb.. Sebaliknya juga pasti ada yang berpendapat; "Hla, emang situ ga bisa bayar kredit macet kok! Kok malah kami yang jadi bad guys nya sih! Ngaca dong! Emangnya situ mau bayarin kredit macetnya???!!!" dst.. dst...

Ga akan habis - habis deh..

Tapi di post kali ini, saya tidak sedang membahas proses hukum sebagaimana paragraf - paragraf diatas. Lagian saya juga bukan ahlinya untuk hukum - hukum perdata dalam kasus seperti kredit macet ini. X___x" *lebih baik jujur daripada di skakmat! T__T" ..

Sebaliknya, post kali ini akan menerangkan; "Apa saja sih yang menyebabkan terjadinya tunggakan? Dan bagaiamana tunggakan tersebut cenderung berujung pada kredit macet?"

Harapan saya sih semoga dengan adanya infomasi ini, teman - teman bisa lebih kritis dan bijaksana dalam menggunakan fasilitas kreditnya. Serta tentunya yah.. moga - moga bisa meminimalisasi resiko kejadian kena kredit macet seperti yang sudah saya terangkan di paragraf diatas kan? :)

Yuk.. kita mulai! (^0^)/

_______________________________



Coba cek skema gambar diatas, tampak jelas proses - proses yang mengakibatkan terjadinya tunggakan. Click gambar untuk memperbesar.



I. Masalah Pertama "Perencanaan Bank yang Kurang Memadai"
Sebenarnya kesalahan kredit macet tidak bisa di salahkan total ke debitur (nasabah). Bahkan bisa saja kejadian kredit macet itu dikarenakan "Perencanaan Bank Yang Kurang Memadai".

Biasanya pada awalnya para bankers akan menganalisa produk kredit & target market yang akan disasar. Tapi ternyata produknya belum sempurna. Target Market yang disasar juga salah!
Contoh : Jualan Kartu Kredit Platinum ke kalangan pengguna kartu kredit Silver / Classic. Kasarannya dari tingkat kemampuan bayar si calon debitur saja sudah tidak masuk kan? Itu sama saja kayak jualan Ferrari ke kalangan pengguna Xenia. Manaa bisaaa! X___x" ..

Tapi kan terkadang para pemegang saham bank ga mau tau. Pokoknya harus jualan! Maka terpaksalah si bankers putar - putar otak. Asal jualan ke target market yang salah, misseling, misspresentation, kalau perlu pemalsuan data, dsb.. Yang penting si bankers bisa achieve target! Ini kan sudah salah besar!

Hal ini juga bisa di tambah parah dengan prosedur internal dan sistem collection si bank yang belum maksimal. Contohnya; fasilitas payment centre masih terbatas, belum bisa bayar via e-channel (internet banking, phone banking, ATM, dsb), belum adanya bagian call centre yang mengingatkan si debitur untuk bayar hutangnya (atau terkadang sudah ada orang yang ngingetin ke si nasabah untuk bayar tagihannya, tapi cara ngingetinnya sambil maki - maki, alhasil si nasabah ngamuk lah ga mau bayar karena tersinggung.), cara penagihan debt collector yang salah, dsb dsb..

_______________________________


II. Masalah kedua "Turunnya Kemampuan Bayar si Debitur"
Nah, kalau ini masalahnya di si debitur (nasabah). Contohnya itu bisa karena :
  1. Unexpected Event
    Contoh : Si debitur *amit - amit* *tok tok tok* ; kecelakaan, kemalingan, toko kebakaran, meninggal, dsb dsb...

  2. Bertambahnya Pinjaman
    Contoh : Si debitur sotoy, doski apply fasilitas kredit kebanyakan. Belum apa - apa tambah kartu kredit, tambah kta, tambah kpr, dsb dsb.. Pinjaman tambah banyak, pemasukan segitu - segitu saja. Akhirnya kemampuan membayarnya kecil. Hancurlah dia.

  3. Perubahan Profesi / Pekerjaan
    Contoh : Misalkan si debitur ini tadinya kerja sebagai karyawan di perusahaan A. Terus dia pindah ke perusahaan B. Balik lagi jadi karyawan kontrak, Eh.. ternyata doski ga kuat kerja di perusaahaan B. Maka hancurlah dia!

____________________________________


III. Masalah Ketiga "Account Maintenance yang Lemah"
Nah, kita kembali kepada masalah dari si banknya. Terkadang kalau banker yang di miliki si debitur kurang berpengalaman, si banker suka salah kasih fasilitas kredit. Contohnya :
Si nasabah ingin punya fasilitas kredit modal kerja dalam bentuk overdraft yang mana bunga baru di bayarkan kalau fasilitas kredit dipakai. Eh.. sama si banker malah dikasih Term Loan, padahal term loan itu biasanya fasilitas untuk beli aset produktif. Dan term loan langsung kena bunga. Si debitur kan mungkin asyik - asyik aja terima duit. Pas udah sadar hitungannya salah aja, mampuslah si debitur! X___x"

Nah, ini berarti kebijakan account maintenance si banker kurang tepat. Tambah parah lagi kalau Service Quality si banker jelek! Data nasabah juga kurang ter-update, si nasabah sotoy minjam kredit kemana - mana tanpa berpikir kemampuan membayarnya berkurang (biasa kejadian sama nasabah yang sudah kena penyakit pengen ngutang mulu - debtaholic), dsb dsb.. Hancurlah semuanya! X___x"

_______________________________


IV. Masalah ke-empat "Kesalahan dalam Akuisisi Pinjaman"
Ini juga masih terjadi di si bank. Terkadang demi cost efficiency, bank tidak mau meng-hire bankers baru untuk menambah kualitas pelayanan dan monitoring account nasabah.

Katakanlah nasabahnya si banker ini tambah banyak, lama - lama pasti si banker-nya kelabakan kan tuh? Kalau sudah begini sebenarnya bisa ada 2 penyebab tambahan :
  1. Si banker-nya maruk karena haus target dan ga mau kehilangan order. Gpp sih kalau sanggup, tapi terkadang si banker suka maksain.

  2. Si debitur sudah keburu nyaman sama banker lamanya, jadi dia ga mau di handle banker yang lain. Serba salah kan??
Sudah sales/banker-nya kurang, hal ini diperparah dengan kebijakan kredit yang asal - asalan seperti point 3. Terjadi pula kesalahan data entry dan verifikasi. Matenggg dahh! x___X"

________________________________


V. Masalah Terakhir "Lingkungan"
Nah, kalau ini bisa kejadian di si debitur dan si kreditur (bank) nih. Masalah terakhir ini sendiri bersifat condition. Yang mana bisa saja terjadi diluar kemampuan kedua belah pihak.

Ingat ga kejadian 1998? Saat dimana terjadi krisis perbankan di Indonesia. Kerusuhan di mana - mana, tingkat suku bunga tinggi, debitur sampai kepayahan buat bayar bunga bank dan masih banyak masalah - masalah lainnya. Atau seperti kejadian di 2008, saat terjadi krisis subprime mortgage di amerika yang mana berefek domino secara global.

Dan tidak hanya karena ekonomi yak, masalah juga bisa berawal dari ketegangan politik dan sosial. Misal ada ormas yang tempur dengan ormas lain cuma karena kalah dalam pemilihan tertentu, saat mereka berantem kebakarlah toko si debitur. dsb dsb.. yah.. ini contoh saja.. Moga - moga ga kejadian di teman - teman semua. *amit - amit!* x___X"


_______________________________


.Closure

Nah, kurang lebih begitulah "hal - hal yang bisa mengakibatkan tunggakan dan kredit macet". Yah moga - moga kejadiannya di teman - teman maksimum cuma nunggak lah. Jangan sampai teman - teman kena kredit macet yak! ;)

Owkayy guys! ROCK ON! \m/ :D

_______________________

Baca Juga :

  1. BI Checking - Tattoo Permanen versi Bank

  2. Tips Mengobati BI Checking

  3. Character a.k.a Kemauan Membayar

  4. Capacity a.k.a Kemampuan Membayar

  5. Capital a.k.a Jumlah Modal

  6. Collateral a.k.a Jaminan

  7. Conditions a.k.a Kondisi Eksternal

No comments:

Post a Comment