USD/IDR


Tips Menangani Kredit Macet & Debt Collector


Hai.. Kali ini gue (erix) bakalan cerita - cerita sedikit pengalaman mengenai "Kredit Macet & tips menghadapai debt collector". Yah, perlu diketahui, apa yang gue tulis ini bisa jadi "dipraktekkan di lapangan". Tapi gue ga akan bilang 100 % berhasil. Karena tentunya kita akan melihat case by case.

Dan tentunya yang perlu teman - teman catat, tips ini bakal kembali juga ke "seberapa kuat mental teman - teman". Karena jujur saja, ini semua akan menjadi permainan psikologis juga.

Oke lah. Tanpa banyak basa basi. Gue mulai aja yah. :))

______________________________


Suatu hari di tahun 2010, gue lagi buru - buru mau pergi ke rumah 'teman tapi mesra' gue. *tsaelahh! x')) | Tapi masalahnya waktu itu gue lupa isi bensin motor gue. Padahal gue udah telat parah. Akhirnya mau ga mau gue stop taksi yang lewat. Gpp agak mahalan, yang penting sampai rumah si doi buat minta jatah! x'))

Nah, dalam perjalanan, seperti biasa gue ngajak ngobrol si pak supir. Tiba - tiba ga tau kenapa, obrolan berlanjut ke perihal kredit macet, debt collector, dsb.. Sebuah obrolan seru yang menambah wawasan. :)

Kurang lebih beginilah ceritanya....




Kisah Kredit Macet Pak Sopir & Todongan Debt Collector



S = Supir
G = Gue


S = "Oh, jadi adek orang bank yah dek?"

G = "Hehehe.. iya pak.. biasalah, budak kapitalis gitu. *sedikit curcol* =')) "

S = "Wah.. Enak dong kerja di bank dek. Setidaknya ga sekeras aku hidupnya. *gantian pak sopir curcol =)) "

G = "Ah, engga juga kok pak. Biasa - biasa saja." :)

S = "Masa sih dek? Wong aku ada tuh sodara yang kerjanya di bank, enak deh dapat tunjangan ini - itu."

G = X____x" *berpikir dalam hati; "tsaelaahh pakkk.. bapak belom tau kerasnya siihhh?!"

G = "Ga kok pak, yah.. buktinya hidup saya gini - gini aja pak." o:)

S = "Oh.. adek ini becanda ah.. Hahahah... Tapi gini loh dek, aku sebenarnya pengen nanya soal bank."

G = "Oh, apaan nih pak yang bisa saya bantu? " :D ..............


Masalah Dimulai...


S = "Jadi gini loh dek, aku pusing di terror debt collector terus dek. Aku harus gimana yah?

G = "Emang bapak minjem apaan pak? *dalam hati, gue yakin pasti KTA deh.. x__x

S = "KTA dek..."

G = *Dalam hati* "Yahhh.. bener kan apa yang ada di pikiran gue..cape deh si bapak.."

G = "Wah.. KTA yah pak.. KTA memang sangat beresiko pak. Tapi.. sebenarnya KTA itu baguss pak, asalkan hitung - hitungan dan tujuan kita tepat. :D
*Baca Pro - Kontra dalam Kredit*
*Baca cara apply KTA*
*Baca Cara menghitung bunga KTA*

......lalu gue menjelaskan.. bla..bla..bla..bla......



Akar Masalah

S = "Iya sih dek. Sebenarnya bukan salah KTA-nya. Tapi aku salah perhitungan dek. Waktu itu aku pengen coba - coba usaha, tapi gagal. Akhirnya ga bisa bayar tagihan kredit, bunga pun sudah berbunga. Duh bapak sampai bingung dek sekarang. Anak istri juga sampai kena terror. Stress aku." :'(

*Sekedar catatan. Sebelum tersandung kasus beberapa waktu yang lalu (tentunya dihitung saat post ini dibuat), dimana terdapat kejadian penagihan yang menewaskan seorang petinggi partai oleh debt collector yang di-hire sebuah bank asing. Banyak laporan dari masyarakat mengatakan, bahwasanya; debt collector seringkali bertidak kelewat keras.

**Akan tetapi, setelah kasus itu terjadi. Debt Collector sekarang bertindak lebih hati - hati dalam proses penagihan. Biasanya banyak yang balik ke old school technique. Contohnya : nginep di pekarangan rumah sang debitur. Hehehehe..


G = "Heummff... Susah juga yah pak. Sebenarnya saya yakin, debt collector pun sebenarnya tidak mau berbuat seperti itu. Hanya saja kan itu part of the job dia pak. Dia kan di target juga sama bosnya. Begitupun dia pasti punya tanggunan seperti anak, istri, orang tua, dsb...

"Yah.. bukannya apa - apa sih pak. Itu hanyalah perspektif saya semata. Karena memang masalah harus diliat dari 2 sisi..."

S = *hening*...

G = "Yah, tapi sebenarnya ada beberapa tips berikut yang mungkin bisa saya share ke bapak untuk menghadapi debt collector.

S = "Oh ya? Apa aja tuh dek? Boleh dong aku dikasih tau.." :')

G = "Jadi begini pak....

Pertama, ada baiknya bapak kalau disamperin si debt collector jangan ngamuk balik. Saya mengerti ga enaknya di maki - maki pak. Karena keluarga saya pribadi juga sempat mengalaminya. Sakit hati banget sih saat orang tua saya di hina - hina. Dulu saya juga sempat hampir ngamuk dan ambil golok, pengen banget rasanya saya bacok tuh debt collector.

Akan tetapi makin kesini saya menyadari bahwa; memaki balik bukanlah solusi yang terbaik. Tapi kalau memang itu mau bapak, yah silahkan....

Kedua, ada baiknya bapak menyatakan kesanggupan bayar. Hanya saja, bapak juga perlu menyatakan bahwa bapak belum sanggup bayar sejumlah tagihan yang di maksud.

Dapet ga nih pak sampai sini?"

S = "Hee.. maksudnya gimana sih dek? Aku ora mudeng!"

"Kok aneh sih, kamu bilang aku perlu nyatain kesanggupan bayar. Ya kalau aku sanggup yah aku bayar, tapi kan aku ga sanggup. Makanya macet!" x'(( *antara ngamuk dan tetep minta nasehat.

G = "Jadi gini pak.. menyatakan kesanggupan bayar itu "beda" sama bapak menyatakan bapak langsung bayar semua tagihannya.

Menyatakan kesanggupan bayar itu maksudnya "bapak ada itikad baik untuk lunasin hutang - hutang ini". Arti kata bapak janji juga sama mereka, kalau bapak ga bakal kabur. Pasti dibayar kok! :)

Tapi tentunya yah.. Kesanggupan bayar itu bapak nyatakan dengan "waktu dan jumlah pembayaran yang katakanlah ... bertahap". ;)



Mendapatkan Titik Temu...



S = "Ohhh.. emangnya bisa yah dek kayak gitu? Tapi aku tetap dimarahin kan pastinya?"

G = "Bisa pak.. Tapi soal dimarahin sih pastilah pak. hahaha.. Bapak ini ada - ada aja. Kalau permisalkan bapak minjemin duit ke temen atau saudara trus macet, lalu dia mohon - mohon ke bapak untuk minta kelonggaran emangnya bapak ga marah? Coba kita melihat kearah sana.." =))

S = "Heumff.. Iya juga sih dek.. Terus dek.. Gimana lagi caranya?"

G = "Pastinya yang bapak perlu tahu; kredit itu tidak saklek. Dan bank tentunya mempunyai beberapa macam cara untuk merestrukturisasi / me-recover / menyembuhkan kredit macet bapak tersebut."

Contohnya ya salah satunya seperti tadi, pembayaran kredit jadi dicicil. Atau bapak menyatakan pailit dan meminta penagihan bunga di hentikan, kemudian bapak hanya bayar pokoknya saja. Dan lain - lain.

Atau waktu si debt collector datang, bapak bilang kayak gini; "Pak.. maaf aku belum ada uang. Tapi aku ada uang sekian (katakanlah Rp. 50,000 - Rp. 100,000). Tapi uang ini mungkin sementara bisa untuk bapak dulu... Sembari nanti saya cari - cari uang untuk bayar tagihan yang ada. Ngomong - ngomong bapak sudah makan belum? Boleh ga pak kita ngobrol - ngobrol sambil makan bareng?"

Pasti awalnya si debt collector malah maki atau sok - sok emoh. Tapi jangan putus asa. Hahaha.. Tetap sentuh sisi manusiawinya, karena pada dasarnya kan debt collector manusia juga. *Macam lagu seurieus - Rocker Juga Manusia* ='))

Lakuin saja pelan - pelan. Setidaknya itu yang pernah saya pelajari dari ibu saya pak. Biasanya ibu saya ngajak mereka ngobrol di ruang tamu dan kasih makanan. :)

Walau yah.. memang sih, saya akui ada juga beberapa kali pertengkaran. But it's okay... *udah resiko soalnya*

S = "Oh.. gitu yah dek? Betul - betul.. Trus"

G = "Yah, pastinya sih pak. Ada baiknya bapak juga treat dia terus. Sampai nanti si debt collector jadi agak jinak ke bapak. Tapi bapak jangan hanya berhenti disitu..........."


Solusi Itu Ada


G = "Bapak juga harus cari solusi. Misalnya datang ke bank atau financial institution tempat bapak minjam kredit tersebut. Lalu minta solusi seperti yang saya katakan tadi; menyatakan pailit, minta bunga di stop, pembayaran parsial (bertahap) atau ada solusi lainnya.

Saya yakin, pada awalnya pengajuan bapak biasanya akan ditolak. Ngahahha.. Samalah kayak kalau permisalkan teman bapak yang minjem duit nyatain bangkrut; emangnya bapak segampang itu percaya? Engga kan? Namanya juga bisnis! :))




Tetapi jika MEMANG BENAR, adanya bapak benar - benar bangkrut dan ga tau lagi harus gimana lagi. Saya yakin, pasti mau - tidak - mau. Tempat bapak minjem kredit itu harus lakukan sesuatu untuk selamatin duit dia juga kan? Hehehe.

Tetapi bapak harus ingat juga. Jangan sampai bapak bohong. Misalkan bapak ngaku ga bisa bayar, tapi ternyata bapak pegang duit cash. Ya itu kan udah bohong juga pak. Ini harus memang dalam kondisi bapak benar - benar udah bangkrut total. Jujur Pak!

Dan kalau permisalkan debt collector memaksa memanggil polisi. Yang perlu bapak ketahui, polisi tidak boleh mengurusi hutang - piutang. Itu rahasia umum yang hampir semua banker tau.

Kalaupun mereka ngancem rumah bapak mau disita, kaga bakal bisa deh. Karena begini, dalam produk kredit yang tanpa agunan, bukan berarti bapak ga bisa bayar tagihan lantas rumah/mobil/motor/aset lain bapak disita. Namanya juga kan kredit tanpa agunan pak! Emangnya apa haknya untuk nyita aset bapak? Kan tidak ada di covenant (perjanjiannya) juga kan pak? Ya kan pak? Hahahha

Itu juga yang menyebabkan bunga produk kredit tanpa agunan tinggi pak. Karena resiko yang ditanggung pihak penyalur dana (kreditur) juga BESAR! ;) ...."

Tapi lain ceritanya kalau bapak pakai agunan untuk fasilitas kreditnya. Biasanya yah.. mau tidak mau, bisa jadi agunan di sita untuk kemudian di lelang. Atau mungkin, bapak jual agunan bapak untuk melunasi tagihan - tagihan tersebut. Yah.. itu resiko sih pak..

Selain itu bapak juga harus sadar bahwa ; semua keputusan akan nasib kredit nasabah jika sudah tidak ada jalan keluar secara musyawarah antara pihak penyalur (kreditur) dan peminjam dana (debitur), ya mau ga mau akan di tentukan keputusan terbaiknya oleh pengadilan. Jadi bukan oleh pihak - pihak yang tidak berwenang seperti debt collector ataupun kepolisian. ;)

Dan yang bapak juga tetap harus optimis. Sebelum hal itu terjadi, biasanya tempat bapak minjem kredit itu udah ogah duluan. Mereka pasti lebih pilih opsi untuk merestrukturisasi kredit bapak itu. Percaya deh pak! ;) *yah moga - moga* *wekekekeke*



Closure


S = "Waahhh.. makasih banyak dek infonyaaaa.. aduh, aku jadi terhibur dek." :')

G = "Yaaa.. kira - kira begitulah pak sekilas tentang hadapi debt collector beserta kredit macet bapak. Pesan saya sih, yah.. bapak sabar - sabar. Kalau bapak mau timpalin balik mereka, yah itu urusan bapak. Cuma saya ga saran..." o:)

................................

................................

Akhirnya gue tiba di rumah 'teman tapi mesra' gue. Hehehe.. *udah panas minta jatah* Saya langsung membayar tagihan taksi ke si pak supir. Awalnya sih pak supir menolak, karena dia bilang ke gue kalau gue udah bantu dia. Tapi.. Yah, bukannya sok mulia sih.. *hadehh*

Cuma waktu itu gue bilang; "Pak, aku cuma bantu dalam hal kata - kata. Saya rasa nilai materi dalam uang ini tidak seberapa, tetapi lebih penting untuk keadaan ekonomi bapak saat ini. Semoga bapak segera menemukan solusi atas masalah bapak. Dan jangan lupa bilang juga ke anggota keluarga bapak semuanya; "Yang kuat". Karena seperti yang bapak sempat ceritakan ke saya di awal tadi. Biasanya jika terror tak berhasil ke bapak, terror tersebut akan berlanjut ke anggota keluarga bapak yang lain. Yah, moga - moga saja masa - masa sulit bapak segera berlalu pak." :)

Pak sopir pun mengucapkan terima kasih & berlalu. Sayapun mengucapkan terima kasih kembali dan pamit kepadanya....

Lalu...

Ya.. sudah tentu gue langsung puter arah 180 derajat, mau lari ketemu TTM ogut. *aheyy.. x))

Tapi ternyata...

Rumah TTM gue kosong. Tenyata TTM ogut sudah berangkat duluan ke puncak. Gue ditinggal...
Katanya gara - gara ortunya tiba - tiba ngajak kesana... Dan doi sekip kalau gue mau dateng..

T_____________T *kemudian hening*

*yaarrrgghhhhh* *penontonnn kecewaaaaaaa* *banting - banting sepatu* *menangis tiada tara* ='))))))


Sekian.. Semoga infonya berguna teman - teman. ^.^v

No comments:

Post a Comment